“Apa kamu sudah putuskan?” tanyanya sambil memutar-mutar handphone di tangan. Dari nada suaranya, sudah jelas terdengar kalau dia sedang gelisah. Kemudian dia menggeser posisi duduknya dari di sebelahku ke palang pembatas teras di depanku. Waktu itu pukul 16.00 lebih. Semua teman kuliah kami sudah pulang. Hanya tinggal kami berdua yang duduk gelisah, berunding di depan ruang Tata Usaha Gedung E FKIP UNS.
“Aku tidak bisa memutuskan” kataku sambil membungkuk, memunguti remah-remah roti bakar yang baru saja kumakan. Meskipun terkesan lebih tenang dari dia, hatiku tidak dapat berbohong. Hampir seminggu ini aku tidak dapat tidur nyenyak hanya karena mencari jawaban dari pertanyaan ini.
“Gimana to Kris? Siapa yang seharusnya kita pilih?” tanyanya lagi, memberi sedikit penekanan ketika dia memanggil namaku. Diantara teman-teman kuliahku, hanya temanku Lusi dan dia yang memanggilku dengan panggilan “Kris”.
“Sebenarnya Bu Dewi sudah menawariku, Mbak” jawabku dengan nada kalimat separuh menggantung.
“Bu Dewi siapa?” tanyanya, matanya melirik ketika aku mengucapkan salah satu nama dosenku itu.
“Bu Dewi. Dra Dewi Rochsantiningsih, M. Ed, Ph. D” kataku.
“Kamu yakin mau memilih beliau?” tanyanya. Bibirnya merengut, tidak yakin dengan jawabanku.
“Aku kan cuma ditawari beliau, tapi aku sendiri tidak yakin. Kau tahu kan? Beliau jenius. Lulusan Australia. Super smart. Padahal kemampuan kita hanya seperti ini.” Tiba-tiba aku terduduk lemas, membayangkan kami dimarahi Bu Dewi. Padahal Bu Dewi sangat baik. Beliau tidak pernah marah di kelas. Namun kami, para mahasiswa bodoh ini, kadang sering merasa takut kalau sampai tidak dapt menjawab pertanyaan yang beliau berikan, apalagi sampai dibimbing oleh beliau. Huh, sungguh tak terbayangkan. (Aku sungguh-sungguh berlebihan. He.)
“Jangan Bu Dewi lah…” tambahnya.
“Aku sudah menentukan Pembimbing duanya.” Kataku
“Siapa?” yanyanya antusias.
“Pak Asrori.” Jawabku.
“Kamu yakin?”
“seratus persen.”
“Tapi aku belum pernah ikut kelasnya.”
“Aku pernah ikut kelasnya dua semester. Dan dia sungguh Oke. Sangat baik. Sebenarnya tidak ada dosen kita yang tidak baik, tapi Pak Asrori ini sungguh kebapakan. Aku bahkan tahan certita berjam-jam dengan beliau.” Jawabku mantap.
“Ya sudah. Aku ikut denganmu” timpalnya.
“Terus siapa pembimbing pertama kita?” tanyaku, sedikit emosi dan ingin menangis karena sudah hampir dua minggu ini kami belum jua mengambil keputusan.
“Entahlah” Jawabnya lemah.
Kami mulai berdebat mengenai siapa yang sebaiknya kami pilih sebagai pembimbing skripsi. Kami masih di awal semester 6, belum waktunya memngambil skripsi. Namun kami punya target untuk lulus di semester 7, jadi kami sudah harus mulai memikirkan skripsi sedini mungkin jika ingin cita-cita ini terealisasi. Mungkin mahasiswa lain masih belum sama sekali terpikir untuk megerjakannya., tapi kami sudah ingin menyudahi studi ini. Alasanku adalah karena ku tidak kerasan tinggal di Solo, tempat aku menuntut ilmu ini. Dan alasan Mbak Wastuti, cewek yang sedang berdebat denganku ini adalah karena dia sudah berhenti kuliah setahun. Jadi lulus cepat adalah cara yang dipilihnya untuk membayar keterlabatan usahanya untuk mendaptkan gelara sarjana ini.
“Kau sudah yakin dengan keputusan ini? Tanyanya.
“Yakin. Final. Bulat.” Kataku.
“Yakin?” ulangnya.
“Sebenarnya tidak terlalu yakin” jawabku sambil nyengir.
“Terus gimana?” tanyanya lagi.
“Ya sudah belaiu saja. Prof Dr Joko Nurkamto, M Pd” kataku.
“Wew wew wew. Mantap. Keren sekali kalau di skripsi kita nanti terpampang nama beliau sebagai pembimbing utama kita. Belum lagi ilmu yang akan kita dapat dari beliau.” Ujarnya sambil tersenyum.
“Iya. Dan keren sekali kalau kebodohan kita bakal sering terlihat di depan semua mahasiswa S1 dan S2. Kau kan tahu bagaimana model bimbingannya. Sekali bimbingan lamngsung rapel 15 orang. Kalau sampai kita gak bisa jawab pertanyaanya, payah bo…” Kataku
“Apa kita ganti saja? Dosen kita yang baik-baik dan mudah meluluskan skripsi kn banyak…” katanya, ikut ragu.
“Tidak tidak tidak. Aku mau Prof Joko saja.” Aku menggeleng-gelengkan kepala ketika dia mengusulkan untuk ganti pembimbing.
“Ya sudah. Pak Joko. Dan Pak Asrori. Deal?” ttanyanya.
“Deal” jawabku. Lalu kami berhigh five, bersalaman, dan pulang.
Satu bulan berikutnya aku dipusingkan karena judulku tidak juga di-ACC oleh pembimbing pertama skripsi kami, Prof Joko. Padahal mbak Was susah disetejui pada awal kali pertama dia mengajukan judul. Wew. Aku stress.
Dua minggu kemudian judulku ACC. Sekarang giliran mbak Was yang pusing karena diminta Pak Prof untuk membuat framework penelitiannya. Yang membuat dia pusing adalah karena dia tidak mengerti framework seperti apa yang diinginkan professor jenius itu. Berkali-kalu dia mengajukan konsep, tapi belum juga benar. Hehehe. Saat itu aku bias tertawa-tawa karena skripsiku tidak dineko-neko oleh pembimbing.
Dua bulan selanjutnya kami off mengerjakan skripsi. Tenang. Aku akan selalu mengingat masa-masa itu, masa ketika kami bebas tugas dan bebas tekanan mental karena terpaksa harus menghadap Prof Joko.
Satu bulan kemudian kami mulai mengerjakan proposal penelitian secara asal-asalan (terutama aku). Aku bahkan tidak mengerti apa yang aku tulis. Untung saja Prof Joko tidak begitu menggubris urusan proposal. (UNTUNG????!!!!) Begitu juga dengan Mr Asrori. Ketika aku berkata “Pak, ini proposal saya. Sudah diACC oleh Prof Joko. Tinggal meminta koreksi Bapak”. Satu minggu setelah itu, proposal kami dikembalikan Mr Asrori. Tidak ada coretamn sedikitpun dalam proposal itu. Lolos. Mungkin Mr Asrori menanggap proposal ini sudah 100% valid. Padahal tidak ada sedikitpun ilmu yang kuserap dari proposal itu. (HAGHAG!)
Dua bulan kumidian kami vakum mengerjakan skroipsi. Libur. Senangnya hatiku.
Dua bulan kemudian aku baru tahu kalau mbak Was sydah menginjak BAB 2. Pusing… aku belum sama seakale. Bab 1 ku bahkan masih terus dipertanyakan keabsahannya oleh Prof KJoko. Berkali-kali aku mngejukan Bab 1 itu, tpai selalu ditolak. Aku stress.
Satu bula kemudian aku mulai maju Bab 2. Namun Prof Joko malah tidak dapat ditemui sama sekali. Aku senakin gila. Badanku mulai kurus kering karena tidak bisa makan. Bayangan targetku tidak tercapai sudah membayangi malam-malam dalam mimpiku. Hufh.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sampai akhirnya sembilan bulan, sehingga pada ending ceritanya kami daPat meyelesaikan skripsi itu. SKRIPSI ITU! TELAH MERENGGUT NAFSU MAKANKU. TELAH MEMBUNUH SEMANGAT HIDUPKU. DAN TELAH MENURUNKAN BERAT BADANKU HINGGA 6 KILO!!!
Dari sini, dari sebuah proses panjang pembuatan skripsi yang menyiksa ini, kudapati beberapa makna hidup yang sangat berarti bersama sesosok makhluk jangkung bernama Wastuti Ariyani. Kebersamaan. Persahabatan. Dan kekeluargaan.
Dewasa. Satu kata itulah yang menggambarkan seperti apa dia ketika aku pertama kali mengenalnya. Dia ramah. Dan santun. Dia tidak termasuk dalam kategori manusia yang bisa mengumpat, memaki, atau meneriaki orang lain dengan kata-kata kasar. Dia itu anggun, kalau saja dia mau mengubah penampilannya yang tomboy menjadi sedikit fiminin.
Darinya, aku belajar banyak tentang arti kesabaran, kejujuran, dan rendah hati. Mbak wastuti adalah wanita yang sangat sabar. Berapa kali aku mengadu padanya mengenai banyak masalahku. Dan dia selalu menanggapiku dengan sabar. Ketika aku marah pada orang lain, dialah yang pertama kuberi tahu. Ketika aku dimaki-maki seseorang, dia jualah yang pertama kali tahu. Ketika aku bosan, dia yang pertama kali ku-sms.
Wastuti Ariyani. Nama itulah yang telah mengajariku apa arti sebuah hidup dalam bingkai bernama KEHANGATAN.
kenaapa crita bimbingan s2 mu blm dibuat :D
BalasHapus