Kumulai hariku dengan berat. Bukan berat karena aka nada banyak aktivitas yang menanti, tapi berat karena malas. Rasanya ada beban sebesar gunung yang menindih kedua mataku. Susah sekali dibuka. Kulilitkan lagi selimut bututku yang telah berubah warna menjadi cokelat muda karena dimakan usia.
“Huahm…” aku menguap berkali-kali.
Kupikir-pikir lagi apa yang sebaiknya kulakukan hari ini. Pekerjaan menjadi pengangguran memanglah tidak menyenangkan. Di samping karena kantong jadi terserang kanker alias kantong kering, badan-pun selalu lesu karena tidak ada aktivitas pasti yang menanti.
Iseng-iseng, kubuka file-file di computer tua-ku. Warnan layarnya tidak lagi jernih, tapi sudah buram dan ada banyak goresan di sana sini bekas kena tendangan bola adikku yang gemar main bola di dalam ruang.
Kubuka sebuah icon di desktop berjudul “daftar ppl”. Daftar ini berisi nama-nama para mahasiswa FKIP UNS angkatan 2006 yang harus magang mengajar di beberapa sekolah di Solo dan sekitarnya. Kubaca nama-nama itu satu per satu. Mario Agus Velayati. Indah Panuntun Utami. Vina Setyawinata. Dyanggih Sri Aryono. Tutur Widodo. Hantisa Oksinata. Tutut Dwi Handayani. Latif Ansori Kurniawan. Nanik. Dewi. Khitna. Suprek. Nama-nama itu begitu familiar dan melakat kuat di hatiku. Sayang sekali aku tidak bisa lagi memutar waktu hanya untuk sehari saja mengulang kejadian-kejadian di kala itu.
Kulayangkan kembali ingatanku ketika masa itu kami berdesak-desakan, berharap ditempatakan di sekolah yang dipamongi oleh guru-guru baik hati. Teringat juga saat kala itu kami berbondong-bondong berusaha menyogok petugas pembagi tempat PPL. (hehehe. MENYOGOK???) Waktu itu aku sangat berharap ditempatkan di sebuah SMP yang kata kakak tingkatku adalah SMP yang sama sekali tidak memberatkan pekerjaan mahasiswa. Namun aku, si penyogok, ditolak mentah-mentah oleh petugas. Beberapa hari kemudian, di papan pengumuman namaku malah terpampang sebagai mahasiswa yang harus magang di SMA paling favorit. Beberapa teman menyalamiku, menyatakan kebahagiaan karena aku ditempatkan di sekolah itu. Kalau muridnya pandai, otomatis kerja kita minim. Namun ada juga beberapa teman yang mengerti cengiranku, cengiran tidak bahagia karena ditempatkan di sekolah favorit berarti extra kerja keras karena harus menuruti dan memenuhi apa keinginan siswa, sekolah, dosen pembimbing, dan universitas. Bayangkan kalau saja aku sampai tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan siswa-siswa di sekolah jenius itu. Aku kalut.
Enam bulan masa PPL yang menyiksa. Namun saat ini aku malah sangat merindukannya. Hmmhghh… kusebut masa itu sebagai “Masa Pembodohan Siswa”. Haha. Kalian tahu apa artinya??? Hehe. Aku rindu masa-masa itu…
like this much,masa lalu biarlah berlalu
BalasHapusiya Kang Huda. that's absolutely correct. :)
Hapus