Senin, 18 Oktober 2010

DWI UTAMI ZULIAWATI (Kisah Kasih Sayang Enam Makhluk Bumi dalam Sangkar Pelangi) PART 3

Entah sejak kapan aku benar-benar menyadari eksistensinya di dunia. Mungkin sejak aku berada di dalam kost yang sama dengannya Agustus 2006 silam. Kost Inori 3. Padahal kami berada di sekolah yang sama ketika SMA. Bayangkan! Tiga tahun kami bersama! Namun aku baru sadar kalau dia ada tiga tahun setelahnya. Entah apa yang menutup mataku akan keberadaannya. Kelas di grade XI dan XII pun kami pun berdampingan. Nah lho??? Apa yang membuatku tidak mengenal bahkan sampai tidak sadar kalau dia ada? Apa mungkin latar belakang SMP kami yang membuat gap diantara kami? Aku memang sedikit menutup diri dan pilih-pilih dalam berteman. Dan aku hanya suka saling sapa dengan teman-temanku dari sekolah yang sama denganku di SMP dulu. Selain itu, lokasi kelas kali yang nun-jauh terpisah juga membuat kami bahkan belum pernah bertegur sapa selama 3 tahun bersama. Wew…kelasku X3 di pojok utara. Sedangkan cewek yang bernama Dwi Utami Zuliawati ini masuk ke dalam warga kelas X8, kelas pojok selatan.
Dwi Utami Zuliawati. Zuli. Nama yang aneh. Kenapa harus pakai “z”? Orang kebanyakan pasti akan memakai huruf “y” pada nama itu. Dwi Utami Yuliawati. Tapi dia selau menolak jika ada yang memanggilnya dengan huruf “y”. Aku suka aksen orang-orang dalam menyebut huruf “z” pada namanya. Zuli. Namun aku tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Aku lebih suka memanggilnya Juli. Pakai “j”. Alasannya adalah karena aku menyukai nama “Julian”, salah satu tokoh dalam buku Lima Sekawan favoritku. Saudara-saudaranya: Dick, Anne, dan George, memanggilnya dengan panggilan “Ju”. Oleh karena itulah aku menyebut cewek ini dengan nama “Juli”, bukan “Zuli” ataupun “Yuli”. Dan sampai detik inipun Zuli tidak pernah keberatan aku memanggilnya dengan sebutan “Juli”.
Pada awal kebersamaanku dengan Juli di Solo, aku tidak begitu peduli dengannya. Aku hanya care dengan anggota sesama komunitas Sosro, sebutan untuk eks kelasku yang berarti Sosial Loro. Meskipun sama-sama berasal dari kelas Sosial yang hanya terdiri atas Sosial Satu dan Sosial Dua, watak dan karakter kelas kami sangatlah berbeda. Kelasnya identik dengan kelas anak-anak yang rajin, pendiam, dan penurut. Sedangkan kelasku adalah kelompok dari sekumpulan anak-anak badung yang hobi telat, bolos, dan mangkir les+pengayaan hanya untuk membeli segelas es di alun-alun kota. Well…keren sekali kan kelaslu ini? Kelasku bahkan pernah diusir dan dipindahkan ke Lab Fisika yang jauh dari peradaban manusia karena suka sekali membuat gaduh. Ada saja yang suka ribut di kelas. Ada yang bernyanyi-nyanyi kencang seperti Giant dif lm kartun Doraemon, ada yang hobi berlarian di dalam ruangan, bahkan ada yang senang sekali membuat riang ruangan dengan cara menginjak botol minuman ringan untuk mendengarkan sensasi suara “duarrrr” di kelas. Padahal sebelah kelasku dulu adalah Ruang Kepala Sekolah. Walhasil, kelas kami kadang serasa dikucilkan oleh para civitas akademika di SMA N 1 Purworejo karena anggota kelas yang bisa dibilang “hancur”. Namun kami tidak pernah peduli. Yang penting kami bahagia. Sipp. Pertahankan!
Jarang terjadi komunikasi antar warga IPS 1 dan IPS 2 pada zaman kami. Aku juga jarang menyambangi kelas sebelah itu. Paling-paling aku hanya meluangkan waktuku lima menit untuk menemui Nita dan Agata, dua temanku di IPS 1 yang berasal dari eks-X3. Dan dalam kunjungan-kunjunganku aku tidak pernah menemui sosok bernama Zuli. Namun tenyata Zuli menyadariku. Hal ini dia ungkapkan ketika kami telah tingaal satu atap di Kost INORI 3 tercinta.
“Aku belum pernah melihatmu waktu aku SMA dulu” kataku dengan nada bicaraku yang datar dan kaku. Aku memang bukan termasuk orang yang bisa beramah-tamah. Aku lebih suka bicara seperlunya. To the point. Kadang ceplas ceplos. Kata temanku kadang kalimatku menyakitkan. Namun aku tidak pernah berniat demilian. Nada bicara dan akspresiku kan memang kayak robot.
“Aku sering melihatmu” katanya sambil tersenyum. Sanyumnya manis, menurutku.
“Kapan?” tanyaku.
“Kita kan berjejeran kelas selama dua tahun. Jadi aku sering melihatmu. Sering kita berpapasan ketika kita berjalan di teras sekolah. Aku kan sering jalan bareng Ines atau Nita atau Agata. Namun yang kamu sapa hanya mereka saja. Kamu bahkan tidak melirikku” katanya, tersenyum lagi.
Tiba-tiba aku tertawa.
“Huahaha. Apa iya sih?” aku masih tidak percaya. Dalah hati aku masih bertanya-tanya, sedalam apakah penyaikit soliterku ini sampai aku bahkan tidak sadar telah sering menyakiti oranglain.
“Apa kau tidak tersinggung kalau aku begitu?” tanyaku lagi.
“Tentu saja aku tersinggung” jawabya “Aku merasa seolah menjadi manusi tak kasat mata bagimu, yang tak dianggap, dan semacamnyalah. Tapi lama-lama ya sudahlah” nada bicaranya berubah menjadi pasrah ketika dia mengucapkan akhir kalimat.
Well. Aku masih tidak peduli. Bukan aku namanya kalau aku berubah gara-gara dikritik atau diperingatkan orang lain. Minggu-minggu bahkan bukan-bulan berikutnya yang kami lalui masih tetap sama. Aku masih tetap jarang menyapanya walaupun sudah hampis setaun kami tinggal satu atap di kost yang sama. Aku masih lebih suka menghabiskan waktuku dengan Wulan, Reni, Rini, dan Irna, teman-temanku yang berasal dari IPS 2 yang juga sekarang tinggal di kost INori 3.
*****
Aku tidak menyadari sejak kapan aku mulai bersahabat dengannya. Mungkin sejak dia sakit, dan aku yang merawatnya. Atau mungkin sejak aku sakit dan dia merawatku. Yang kutahu sekarang kami dekat sekali. Sekarang dia hobi sekali menyatroni kamarku yang terletak di pojok deret. Sering dia hanya memanggil-manggil namaku dari luar kamar hanya untuk memastikan aku ada di kost. Aku pun sering kali menggedor-gedor pintu kamarnya di malam-malam aku tidak bisa tidur. Atau aku juga sering berteriak-teriak di kamarnya sepulang kuliah hanya karena aku berpapasan dengan Mas ganteng 1, karyawan fakultas yang kutaksir sejak aku pertama menginjakkan kaki di UNS tercinta.
Kami sudah seperti saudara. Sulit sekali menemukan orang yang cocok denganku. Yeah…mengingat egoku yang sangat tinggi. Mengingat aku yang suka marah-marah seenaknya. Heran aku kenapa dia betah berlama-lama denganku. Ketika wisuda-ku, dia bahkan rela sampai tidak ganti baju untuk menungguiku. Waktu itu baru pukul 9. Namun kupikir wisuda sudah akan selesai. Lalu kuSMS dia:
“Ju, meh rampung. Bar iki pindah ke fakultas. Jemput.”
Padahal wisuda universitas beru selesai 1,5 jam setelahnya. Wkwkwk. Kasian dia. Aku baru tahu kalau dia bahkan tidak sempat ganti baju karenaku. Ehm…tahukah kalian kenapa aku begitu mempersoalkan baju ini? Jawabnya adalah karena baju itu, baju ungu yang seharian dipakainya untuk menemaniku di wisudaku, adalah baju yang sudah dipakainya sehari sebelumnya dan dipakai juga ketika dia TIDUR pada malam harinya. Wew..dia payah kan? (Tapi bagi kalian bagi para cowok yang punya kemungkinan untuk menyukai sahabatku yang bernama Juli ini, jangan pernah ragu. Bukankan ini adalah suatu bukti kalau dia rela melupakan penampilannya hanya karena dia tidak mau membuat aku, sahabatnya yang judes dan menyebalkan ini, menunggu? Kalau dia jadi istrimu, pastilah dia akan memperlakukanmu dengan sangat baik. She is 100% guaranteed)
Aku mengagumi Zuli. Dia adalah sosok yang rajin dan pandai. Rajin. Satu kata yang tidak kupunya. Berbeda jauh denganku, dia adalah seorang wanita yang tahu apa maunya. Segala yang terjadi pada hidupnya adalah segala hal yang dia inginkan. Sangat berbeda denganku yang hanya pasang target sekenanya. Prinsipnya sangat kuat, tidak pernah goyah meskipun orang lain berkata lain. Berbeda 180 derajat denganku yang masih suka bingung seperti nenek-nenek kebakaran jenggot ketika ada saja yang tidak sependapat denganku (memangnya da nenek yang punya jenggot?).
Urusan cowok, dia oke. Dia sangat teguh pendirian tidak akan pernah mau pacaran dengan orang yang tidak disukainya. Pernah dia disukai oleh seseorang bernama Hendra. Dia adalah seorang mahasiswa Komunikasi yang sangat cerdas. Visi ke depan yang dimilikinya sangat bagus. Masa depannya juga kurasa bakal cerah karena dia adalah seorang pekerja keras. Wajahnya juga Oke. Namun Juli bilang tidak padanya hanay karena dia masih menyukai seorang teman lamanya. Melegakan sekali karena pada ending-nya dia bisa bersama dengan pangeran idamannya itu.
Begitu baiknya Juli di mataku. Rasanya tidak ikhlas kalau melihatnya menangis karena merasa tersakiti, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Aku tidak rela dia merasa terluka seperti itu. Aku tidak mengerti kenapa kebanyakan wanita itu menangis. AKU tidak begitu. Jarang sekali aku menitikkan airmata. Namun Juli, dia menangis setiap malam karena ………………………………………. Aku tidak berani memberi saran atau apa. Yang kulakukan ketika dia tersedu-sedu hanyalah diam. Hatiku berontak. Ingin kunasehati dia. Tapi nasehat macam apa yang bias diberikan teman tak berguna macam aku? Yang ada malah nanti aku mengacaukan segalanya. Aku tidak tahu apa-apa. Feelingku kan tidak pernah tepat. Dan aku mati rasa untuk segala hal yang berkenaan dengan hati.
Kondisinya saat ni benar-benar parah. Tubuhnya sudah seperti zombie saja menurutku. Cantik. Namun tidak segar karena setiap malam selalu menguras airmata. Kurus, karena tidak pernah mau memenuhi kebutuhan vitalnya sebagai manusia, makan. Ya kan kayak zombie? Gak pernah makan. Ketika aku menemukan sebuah lagu berjudul Lucky milik Britney Spears, Juli langsung meng-claim lagu itu adalah lagu kebangsaannya. Menurutku juga iya.
"She's so lucky, she's a star
But she cry, cry, cries in her lonely heart, thinkin'
'If there's nothing missing in my life
Then why do these tears come at night?'"
Well, dia memang seperti itu. Cantik. Manis. Cerdas. Dan punya segalanya. Namun kenapa masih terus ada tangis di dalam hidupnya? Sampai kapan aku bisa menemani isak tangis di setiap malam-malam kelamnya? Dulu aku sering mengatakan kalau aku adalah sosok tegar yang tidak pernah tergoyahkan, tidak pernah menangis karena masalah apa pun. Namun malam ini, di depan tubuh Juli yang sedang terbaring terlelap dalam mimpi entah apa dengan kedua mata sembab setelah menumpahkan bertetes-tetes airmata, aku menangis. Tahukah kamu Juli? Tangis ini adalah karenamu. Aku juga ternyata hanya seorang manusia biasa. Kau benar. Seperti katamu, aku adalah wanita yang tidak bisa jauh dari yang namanya airmata. Dan aku tidak tahan melihatmu terus seperti ini. Aku kalah. Tapi untuk terakhir kalinya aku mohon, berhentilah menyakiti dirimu sendiri seperti ini,…Juli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar