Dia, orang yang kucintai. Kandikat terkuat yang paling kuinginkan untuk menjadi suamiku. Satu-satunya pria yang sangat ingin kujadikan teman hidup yang menemani sisa usiaku. Aku begitu mengagumi sosoknya. Seleraku memang yang seperti itu. Yang kurus, yang cungkring. Hehe.
Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Rambut cepaknya yang kaku. Dahi lebarnya yang bersih. Hidungnya yang mancung. Bibir tipisnya yang indah. Alisnya yang tebal seperti barisan ribuan semut. Tulang rahangnya yang menonjol. Matanya yang jernih keabuan. Kulit wajahnya yang bersih seperti pualam, putih kekuningan. Semuanya. Bagiku dia sempurna. Nilai 100 untuk manusia berfisik seperti dia.
Aku suka kebiasaannya yang jarang, bahkan tidak pernah tidur. Ada sebuah pepatah yang mengatakn bahwa “orang sukses adalah orang yang sedang bekerja keras ketika orang lain sedang terlelap”. Tentu saja. Sangat masuk akal. Pantas saja kalau selama ini dia memiliki banyak hal yang tidak aku punya. Sebab utamanya tentu saja adalah karena dia masih terus bekerja ketika aku terbuai di alam mimpi.
Tidak hanya itu. Banyak sisi kehidupannya yang aku kagumi. Caranya berjalan, caranya memandang, caranya tersenyum, cara berpikirnya, semuanya! Cengirannya-pun selalu bisa membuatku tidak bisa tidur. Tidak ada yang tidak kusukai darinya. Fisik maupun mental, semuanya begitu sempurna.
Rasa cintaku padanya begitu dalam. Samudra Hindia pun mungkin tidak dapat mengalahkan dalamnya cintaku padanya. Aku belum pernah menyukai orang sampai sehebat ini. Vincent yang kutaksir sejak SD, mas kedokteran UGM yang hobi main badminton dengan sepupuku, bahkan mas Pram yang cakep itu pun tidak bisa membuat aku tergila-gila seperti ini. Mungkin memang benar kalau aku gila karenanya. Di malam hari pun, masih juga kutemukan sosoknya dalam mimpi-mimpi indah yang menyatroniku setiap malam. Setiap malam bermimpi tentangnya! Setengah tahun lalu maupun tadi malam sama saja, tetap memimpikannya!
Namun aku berada pada posisi yang salah. Aku mencintai dia di saat dia telah memiliki oranglain di hidupnya.
Aku begitu sadar kenapa dia lebih memilih aku dibandingkan dengan cewek itu. Kubandingkan diriku dengan cewek yang telah menjadi inti eksistensi hidupnya selama ini. Berbeda jauh. Bak kutup utara dan khatulistiwa. Aku kutub utaranya, dan dia yang khatulistiwa. Dia hangat. Sedangkan aku adalah manusia dingin yang tidah pernah tahu bagaiman cara mencintai seseorang dengan benar. Dia anggun. Tidak seperti aku yang berpenampilan sekenanya, terkesan tidak pedulian. Kubandingkan juga wajah kami. Dia cantik. Seperti bidadari. Sedangkan aku? Aku hanyalah cewek biasa. Cara berjalannya, cara bicaranya, sungguh menandakan kalau dia memang spesial. Mereka berdua sangat serasi, aku sadari itu. Kurasakan evidensi ini sebagai sebuah fakta yang menyakitkan. Ini sungguh tidak adil bagiku.
Rasanya ingin kupukuli saja cewek itu. Geram rasanya setiap melihat kebersamaan mereka yang sangat romantis. Bayangkan saja ketika kalian tiba-tiba melihat satu-satunya cowok yang kalian inginkan, berjalan dan bercanda berdua dengan cewek lain. Aku bahkan pernah berpikir untuk terjun ke jurang ketika siang itu kutemukan mereka sedang tertawa-tawa dalam rekaman di memori otakku. Muncul begitu saja, terus berputar-putar dalam kepalaku. Waktu itu kulihat mereka sedang duduk berdua di pinggir hutan, bercerita sambil tertawa-tawa. Aku merasa seperti patung beku ketika aku melihatnya bersama cewek itu. Cewek itu! Namun, semua berubah ketika aku melihat sosok yang sungguh kupuja. Amarahku langsung lenyap begitu aku melihatnya. Ketika kulihat tawanya, sekujur tubuhku serasa melayang. Tawanya masih tetap sama. Renyah. Dan suara tawanya tetap selalu membuatku seperti ingin mencair seperti kepingan es yang meleleh terkena hangatnya matahari. Agh….aku ingin meledak.
Semua begitu indah ketika awal aku mengenalnya. Namun sekarang semuanya berakhir sia-sia. Ini sangat menyedihkan. Membuat dadaku sesak. Aku patah hati. Kenapa aku harus mencintaniya? Kenapa harus ada pertemuan kalau pada akhirnya hanya membuat aku terluka dan hancur berkeping-keping seperti ini? Saat ini, aku merasa seperti pasir, luluh lantak tak bebentuk lagi. Tidak ada lagi senyumku, telah pudar pula semangat hidupku. Lagu Sheila on 7 yang berjudul Berhenti Berharap itu benar-benar menandakan kondisiku saat ini. “Kenapa ada derita, bila bahagia tercipta. Kenapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan?”
*****
Dia. Dia, si penghancur hatiku ini bernama Edward Cullen. Manusia abadi yang begitu kucintai. Dia sempurna. Sayang sekali dia tidak benar-benar ada. Andai ada pun aku belum tentu mau mencintainya seperti ini. Dia kan vampire. So??? Mbuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar